Arif Indra Kusuma
April 19, 2012, Bintaro
April 19, 2012, Bintaro
Kayuhan sepeda
pelan tak seperti tiga puluh tahun yang lalu. Pundak mulai condong ke depan
menahan berat cangkul yang ia bawa. Meski pelan kayuhan tetap bergerak menuju
sepetak sawah satu- satunya, yang ia miliki sekarang. Matahari menyapa keriput
matanya dengan hangat namun caping coklat menahannya seolah iri bila wajah si
empu dielus sinar mentari. Bersama teman-teman seperjuangan, kayuh seolah menjadi
ringan, tak terasa bila jarak sudah mencapai lima kilometer.
**
Sudah puluhan
tahun Pak Tua tak pernah lagi bertemu dengan kedua anaknya, Manto dan Herman. Kadang
sebagai orangtua, Pak Tua dan istrinya, Mak Leka, merasa gagal mendidik anak-anak
mereka. Bagaimana tidak? Anak yang sudah susah payah dibesarkannya, sekarang
sudah tak peduli lagi dengan keadaan mereka. Untuk sekedar berkirim surat pun
sudah tak pernah dilakukan sejak surat terakhir dari Herman lima belas tahun
silam.
Dalam lamunan
di sela istirahatnya, tak terasa makin berkaca kedua bola matanya. Keringat meng-kamuflase
air mata. Semakin tersayat hati Pak Tua. Bayangan tentang anak-anaknya yang
dulu digambarkannya sebagai tumpuan ketika renta, terus menggelayut. Kerinduannya
terhadap anak-anaknya tak terbendung, namun ia sadar, ia tak mampu berbuat
apa-apa. Pak Tua berusaha membuangnya. Senyum kecil kadang singgah di bibirnya,
melihat padi-padinya tampak hijau. Sejenak melupakan rasa rindunya.
“Krosaaaakk!!”,
suara sepeda rubuh membuyarkan lamunan.
“Mbaaah.. Mbah
Martooo!!”, teriak si Parno memanggil Pak Tua.
“Mbah, Manto,
Mbaah…”, suara Parno lirih sambil terisak.
“Ma-Manto
meninggal, Mbah..”, tambah Parno sambil terbata-bata.
Tanpa suatu
kata apapun, Pak Tua bergegas mengambil sepeda tuanya. Kayuhan demi kayuhan
terus berputar. Semakin kuat keinginan untuk bertemu putra sulungnya itu, ia
semakin teringat ucapan Parno tadi. Kini yang tinggal hanyalah jasad Manto. Seperti
menantang angin, semakin berat saja putaran roda. Hatinya bergejolak, dilema,
antara ingin menemui jasad Manto atau menolak jasad Manto. Pak Tua merasa sakit
hati atas perilaku Manto yang tak pernah datang menjenguknya pun memberi suatu
kabar, ketika renta semakin menggerogoti fisik Pak Tua.
Sampai di depan
rumah, Pak Tua melihat mobil putih berplat L Surabaya, sementara Mak Leka di
dalam rumah terus menangisi jasad Manto. Mak Leka bersama seorang perempuan dan
2 anak kecil yang sama sekali belum pernah ditemuinya, berada di samping jasad
Manto. Surat Yaasin tak henti-hentinya terus berdengung di bibir Mak Leka.
Lagi, Pak Tua tak mampu berucap, matanya berkaca-kaca melihat gundukan tertutup
selendang batik membujur kaku.
“Siapa mereka
ini Mak?”, tanya Pak Tua yang terfokus pada 3 sosok asing yang belum pernah
dilihatnya.
“Mereka ini
anak-istrinya Manto Pak.”
“Suruh mereka
pergi!”, Pak Tua tak mampu menahan emosinya.
**
Seminggu sudah
setelah Manto dikuburkan, Pak Tua hanya duduk-duduk di teras rumahnya. Pak Tua
masih sangat tampak terpukul, ia masih tak percaya, anak yang ia rindukan
datang tanpa nyawa. Terlintas juga bagaimana kabar si bungsu, Herman. Namun lagi,
ia tak mampu berbuat banyak. Hanya rasa rindu bak fatamorgana terus berada di
angan-angannya. Betapa pun anak-anaknya tak peduli pada Pak Tua, dalam hatinya
ia sangat menanti kehadiran Herman maupun almarhum Manto untuk berkumpul
kembali.
Hari ke hari, semakin
lemah saja fisik Pak Tua. Kini ia semakin sering sakit-sakitan. Sawah yang ia
andalkan pun kini tak terawat. Siang malam hanya ia habiskan di sekitar tempat
tidur bambu. Kadang ia terlihat duduk-duduk di teras rumahnya sekedar menyeruput
teh panas buatan Mak Leka sebagai sumber energi. Kian hari tubuhnya semakin
kurus, matanya terlihat lelah, seolah menunjukkan bahwa inilah saatnya bagi Pak
Tua. Dipan bambu menjadi saksi kerinduan Pak Tua.

No comments:
Post a Comment