lusuh, amatir, gak pinter-pinter
lihat, dengar, rasakan

Friday, April 20, 2012

Rindu Pak Tua


Arif Indra Kusuma
April 19, 2012, Bintaro
Kayuhan sepeda pelan tak seperti tiga puluh tahun yang lalu. Pundak mulai condong ke depan menahan berat cangkul yang ia bawa. Meski pelan kayuhan tetap bergerak menuju sepetak sawah satu- satunya, yang ia miliki sekarang. Matahari menyapa keriput matanya dengan hangat namun caping coklat menahannya seolah iri bila wajah si empu dielus sinar mentari. Bersama teman-teman seperjuangan, kayuh seolah menjadi ringan, tak terasa bila jarak sudah mencapai lima kilometer.
**
Sudah puluhan tahun Pak Tua tak pernah lagi bertemu dengan kedua anaknya, Manto dan Herman. Kadang sebagai orangtua, Pak Tua dan istrinya, Mak Leka, merasa gagal mendidik anak-anak mereka. Bagaimana tidak? Anak yang sudah susah payah dibesarkannya, sekarang sudah tak peduli lagi dengan keadaan mereka. Untuk sekedar berkirim surat pun sudah tak pernah dilakukan sejak surat terakhir dari Herman lima belas tahun silam.
**
Dalam lamunan di sela istirahatnya, tak terasa makin berkaca kedua bola matanya. Keringat meng-kamuflase air mata. Semakin tersayat hati Pak Tua. Bayangan tentang anak-anaknya yang dulu digambarkannya sebagai tumpuan ketika renta, terus menggelayut. Kerinduannya terhadap anak-anaknya tak terbendung, namun ia sadar, ia tak mampu berbuat apa-apa. Pak Tua berusaha membuangnya. Senyum kecil kadang singgah di bibirnya, melihat padi-padinya tampak hijau. Sejenak melupakan rasa rindunya.
“Krosaaaakk!!”, suara sepeda rubuh membuyarkan lamunan.
“Mbaaah.. Mbah Martooo!!”, teriak si Parno memanggil Pak Tua.
“Mbah, Manto, Mbaah…”, suara Parno lirih sambil terisak.
“Ma-Manto meninggal, Mbah..”, tambah Parno sambil terbata-bata.
Tanpa suatu kata apapun, Pak Tua bergegas mengambil sepeda tuanya. Kayuhan demi kayuhan terus berputar. Semakin kuat keinginan untuk bertemu putra sulungnya itu, ia semakin teringat ucapan Parno tadi. Kini yang tinggal hanyalah jasad Manto. Seperti menantang angin, semakin berat saja putaran roda. Hatinya bergejolak, dilema, antara ingin menemui jasad Manto atau menolak jasad Manto. Pak Tua merasa sakit hati atas perilaku Manto yang tak pernah datang menjenguknya pun memberi suatu kabar, ketika renta semakin menggerogoti fisik Pak Tua.
Sampai di depan rumah, Pak Tua melihat mobil putih berplat L Surabaya, sementara Mak Leka di dalam rumah terus menangisi jasad Manto. Mak Leka bersama seorang perempuan dan 2 anak kecil yang sama sekali belum pernah ditemuinya, berada di samping jasad Manto. Surat Yaasin tak henti-hentinya terus berdengung di bibir Mak Leka. Lagi, Pak Tua tak mampu berucap, matanya berkaca-kaca melihat gundukan tertutup selendang batik membujur kaku.
“Siapa mereka ini Mak?”, tanya Pak Tua yang terfokus pada 3 sosok asing yang belum pernah dilihatnya.
“Mereka ini anak-istrinya Manto Pak.”
“Suruh mereka pergi!”, Pak Tua tak mampu menahan emosinya.
**
Seminggu sudah setelah Manto dikuburkan, Pak Tua hanya duduk-duduk di teras rumahnya. Pak Tua masih sangat tampak terpukul, ia masih tak percaya, anak yang ia rindukan datang tanpa nyawa. Terlintas juga bagaimana kabar si bungsu, Herman. Namun lagi, ia tak mampu berbuat banyak. Hanya rasa rindu bak fatamorgana terus berada di angan-angannya. Betapa pun anak-anaknya tak peduli pada Pak Tua, dalam hatinya ia sangat menanti kehadiran Herman maupun almarhum Manto untuk berkumpul kembali.
Hari ke hari, semakin lemah saja fisik Pak Tua. Kini ia semakin sering sakit-sakitan. Sawah yang ia andalkan pun kini tak terawat. Siang malam hanya ia habiskan di sekitar tempat tidur bambu. Kadang ia terlihat duduk-duduk di teras rumahnya sekedar menyeruput teh panas buatan Mak Leka sebagai sumber energi. Kian hari tubuhnya semakin kurus, matanya terlihat lelah, seolah menunjukkan bahwa inilah saatnya bagi Pak Tua. Dipan bambu menjadi saksi kerinduan Pak Tua.

No comments:

Post a Comment